foto ilustrasi stan pameran produk halal di sebuah expo

Hari ini, Minggu 18 Oktober 2026, Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 resmi berakhir. Dari panggung pameran ekonomi syariah terbesar di Indonesia itu, UMKM Jakarta pulang membawa kabar yang patut dicatat: potensi bisnis senilai Rp4,4 miliar dari calon pembeli internasional.

Angka itu lahir dari sesi business matching dengan Ben Helen Trading — perusahaan asal Belanda yang menjajaki kerja sama dengan dua pelaku usaha binaan Bank Indonesia. CV Boga Rinset Indonesia lewat merek Cuan-Q mencatat potensi kesepakatan senilai Rp1,3 miliar. Sementara PT Sejiwa Kreasi Bersama lewat produk Tepa Selira membukukan potensi transaksi hingga Rp3,1 miliar untuk satu tahun ke depan. Digabungkan, nilainya menyentuh Rp4,4 miliar.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi DKI Jakarta memfasilitasi 22 UMKM sektor fesyen, kriya, dan makanan halal untuk tampil di ISEF 2026 yang digelar 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta Pusat. Sebanyak 17 dari 22 UMKM itu adalah peserta program Industri Kreatif Syariah (IKRA) Indonesia — program pembinaan yang dirancang menaikkan daya saing pelaku usaha dalam ekosistem industri halal.

"Melalui program IKRA, kami mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas produk, inovasi, serta memperluas akses pasar, baik melalui segmen business to consumer (B2C) maupun business to business (B2B)," ujar Kepala KPwBI Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan, Jumat (16/10/2026).

ISEF bukan sekadar pameran

foto ilustrasi suasana hall pameran dengan deretan stan

ISEF tahun ini mengusung tema "Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital". Ajang dibuka resmi oleh Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo pada Rabu (14/10/2026).

Yang menarik dari penyelenggaraan tahun ini: penyelenggara tidak hanya menyasar pasar konsumen akhir, tetapi menggenjot kerja sama antar pelaku usaha. Hasilnya terlihat dari dua penjajakan bisnis tadi — pendekatan B2B yang justru menghasilkan nilai terbesar.

Menurut Iwan Setiawan, capaian ini menunjukkan ISEF bisa menjadi wadah promosi sekaligus fasilitasi perluasan akses pasar dan kemitraan internasional bagi UMKM Jakarta. KPwBI DKI Jakarta berkomitmen melanjutkan pembinaan UMKM secara berkelanjutan lewat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Bedakan potensi dan transaksi

Satu hal perlu diluruskan agar pembaca tidak salah paham: Rp4,4 miliar itu adalah potensi bisnis dari penjajakan, bukan kontrak yang sudah ditandatangani atau uang yang sudah masuk.

Business matching adalah tahap perkenalan antara penjual dan calon pembeli. Setelahnya masih ada proses panjang: negosiasi harga, uji sampel, kesepakatan syarat pembayaran, sampai pengiriman. Banyak penjajakan bisnis di berbagai pameran tidak berujung kontrak.

foto ilustrasi para perajin batik sedang bekerja di sebuah sentra kerajinan

Ini bukan berarti capaiannya kecil. Justru di sinilah nilainya: dua UMKM Jakarta berhasil masuk radar pembeli Eropa — pasar yang dikenal ketat soal standar kualitas dan sertifikasi. Bagi pelaku usaha kecil, lolos ke tahap penjajakan dengan buyer Belanda adalah validasi bahwa produknya punya daya saing internasional.

Tantangan berikutnya ada di tindak lanjut. Tanpa pendampingan pasca-pameran — soal kemasan ekspor, dokumen, hingga kapasitas produksi — peluang Rp4,4 miliar bisa menguap begitu saja. Di sinilah janji pembinaan berkelanjutan dari BI DKI akan diuji.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu ISEF 2026?

Indonesia Sharia Economic Festival ke-13, ajang tahunan ekonomi syariah yang digelar 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), dibuka oleh Gubernur BI Destry Damayanti dan Wamenko Perekonomian Dradjad Hari Wibowo.

UMKM mana saja yang dapat potensi bisnis Rp4,4 miliar?

CV Boga Rinset Indonesia lewat merek Cuan-Q (potensi Rp1,3 miliar) dan PT Sejiwa Kreasi Bersama lewat produk Tepa Selira (potensi Rp3,1 miliar untuk satu tahun ke depan), hasil business matching dengan Ben Helen Trading asal Belanda.

Apa itu program IKRA?

Industri Kreatif Syariah (IKRA) Indonesia adalah program pembinaan Bank Indonesia untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku usaha dalam ekosistem industri halal, mencakup segmen B2C maupun B2B.

Apakah Rp4,4 miliar itu transaksi yang sudah pasti?

Belum. Itu adalah nilai potensi bisnis dari hasil penjajakan (business matching), bukan kontrak yang sudah ditandatangani. Tahap lanjutan seperti negosiasi dan kesepakatan syarat masih harus dilalui.

Berapa UMKM Jakarta yang difasilitasi di ISEF 2026?

22 UMKM sektor fesyen, kriya, dan makanan halal, dengan 17 di antaranya merupakan peserta program IKRA Indonesia.

Artikel ini diterbitkan Klik Fakta pada Minggu, 18 Oktober 2026.

Sumber: daelpos.com, Jakarta Review, tajuk.co, kabarjakarta.com.